No right-clicking please! (:
Please ask instead! :D

137 Sekunden
Rules & Regulations
Scary Monsters and Super Creeps

Welcome to jessicahanafi@blogspot.com.
Hush & Listen up!

You're not allowed to:-
-Copy, Rip, Spam, Steal & more...!

If you hate me, kindly click the red 'x' button on the top-righthand corner of the screen.
If you love me, please stay to enjoy or take a look at the other side of mine * JESS' trash can


or simply search for words and music that could define me at * JESS' Tumblr


This worksheet/pensieve is decent proof that I always OVERTHINK EVERYTHING
Remember to leave a comment below each posts before leaving.



Something To Talk About
Sunday, August 14, 2011; 8:27 PM
A Force to be Reckoned with: TEDx Jakarta

A Force to be Reckoned with: TEDx Jakarta

(Warning: Jika Anda tidak sekaligus menyelesaikan bacaan ini dalam sekali baca, bisa jadi Anda bukan pembaca cepat yang efektif, nanti akan dijelaskan di sesi 3, pembicara pertama) XD

Berikut adalah ulasan pribadi mengenai TEDx Jakarta "The Journey to Return". Selain pandangan mata dan penangkapan telinga, ada unsur reinterpretasi yang diolah dalam otak saya yang menjadikan adanya beberapa pemahaman personal (di samping tentu saja beberapa pemahaman yang sama dengan umum). Perlu diingat bahwa otak saya yang lemot tentu menyimpan beberapa memori tetapi juga sekaligus tak dapat menangkap beberapa pernyataan njelimet dari TED speakers. Beberapa ulasan di bawah mungkin kontekstualnya dengan pengalaman yang direkam otak. Mungkin berbeda dengan pengalaman attendee lainnya. So.....

TEDx Jakarta 2011 adalah pengalaman kedua saya mengikuti TEDx. Sebelumnya, saya menghadiri soul sisternya, TEDx Ubud. Berbeda dengan TEDx Ubud yang baru pertama kali diadakan, TEDx Jakarta ini adalah gelaran ketujuh. 13 Agustus 2011, TEDx Jakarta mengambil tema “The Journey to Return” dan bertempat di Fine Arts Theatre, Jakarta International School.

Registrasi yang semestinya pukul 9-10 pagi ternyata secara natural ‘merapikan diri’. Mungkin begitu tahu bahwa peserta kali ini 700-750 orang, banyak attendee yang memilih datang lebih pagi dari jam 9, termasuk saya yang registrasi pada 8.33. Registrasi, saya diberi goodie bag berisi koran Jakarta Globe, notes Gapprint, beberapa brosur, kemasan Jahe Wangi, bolpen TEDx Jakarta (yang tampaknya hanya bisa dipajang, karena macet cet) dan name tag bertuliskan nama saya dan kotak di bawahnya bertuliskan “Talk To Me About”, langsung saya isi “Pop Culture”.

Meski tampaknya registrasi sudah selesai pukul 10 (tampaknya ya), pintu Fine Arts Theatre tetap dibuka pada 10.30 seperti yang dijadwalkan. Sembari menunggu, karena saya sendirian ya mata saya keliling-keliling melihat keplek attendee lain. Seru juga, di ruang “Talk To Me About” ada yang menulis: Edu Psychology, Technology, Photography, Science, Eurythmics, Radio, Education, Music, ada juga yang menulis Anything dan banyak juga yang tak menuliskan apa-apa. Sempat juga bertemu teman-teman TEDx Jakarta yang saya kenal semasa TEDx Ubud. Mereka sibuk wira-wiri untuk acara terbesar mereka ini. Ada Veny, Anien, Santi, Titis, Arief, Bowo, Natalia. Alhamdulilah mereka masih ingat saya.Oh iya, di TED karena datang sendiri, saya kenalan dengan teman baru: Dhila (yang pacarnya adalah volunteer TEDx) yang ramah dan Andin, arsitektur lulusan ITB yang kalem. Waktu break, juga ketemu Kang Daned (brainstormer tempat magang saya dulu) dan Mba Emmy (Production Assistant program magang sama).

Session 1: The Golden Rule

SITI MUSDAH MULIA - Interfaith Peace Advocate

Sesi pertama, The Golden Rule bermaksud untuk mengingatkan kita mengenai bagaimana kita semestinya memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan oleh orang-orang itu. Pembicara pertama, Musdah Mulia, adalah pendiri Indonesian Conference on Religion for Peace (ICRP). Beliau berbicara mengenai masa kecilnya yang dididik oleh keluarga Islam yang taat, sholat dan perintah Tuhan dilekatkan padanya sejak belia. Beranjak dewasa, beliau yang bertetangga dengan seorang Chinese dan Kristen, mulai dilarang bermain bersama temannya itu. Pulang rumah beliau harus cuci tangan karena katanya najis. Beliau bingung. Dalam perjalanan hidupnya, Musdah Mulia sempat mengunjungi Siprus, Prancis, Mesir, dll dan menemukan Kristen Koptik yang juga mengenakan cadar/jilbab/penutup kepala seperti perempuan Islam yang menutup aurat.

Beliau berbicara mengenai bagaimana ajaran agama melalui beragam reinterpretasi manusia sehingga sulit tahu yang mana yang benar Tuhan ajarkan, mana yang melalui proses ‘olahan manusia’. Sebab belakangan, karena semakin dogmatif, banyak yang membunuh dan melakukan kekerasan mengatasnamakan agama . “Pentingkah di negara kita itu agama dituliskan di KTP?” begitu pertanyaan retoris beliau. Bagaimana dengan yang agamanya bukan 6 yang diakui negara? Ada banyak kepercayaan yang kemudian tidak diakui oleh negara. Dengan isu seperti ini, beliau merasa penting membuka wadah dialog yang menekankan kembali nilai toleransi, yang menjadi agenda ICRP itu sendiri.

DIDIK NINI THOWOK - Cross Gender Dancer

Setelah itu attendee disuguhi penampilan Tarian Dwimuka yang memadukan gemulai tarian dan komedi sesekali. Usai bertepuk tangan, si penari berganti baju langsung di panggung sambil berekspresi mengedipkan mata dan gerakan-gerakan yang mengundang tawa. Pembicara kedua ini berjuang di seni dan budaya, Didik Nini Thowok memperkenalkan dirinya sebagai penari cross-gender. Tidak ada padanan Bahasa Indonesia untuk “cross-gender dancer”, eufemisme belum cukupnya pengakuan bahkan pengetahuan mengenai jenis tarian ini. Didik mengulas masa lalunya sebagai minoritas yang keturunan Chinese (tak banyak yang tahu bapaknya Chinese, ibunya Jawa), Kristen, dan menekuni seni tarian di mana laki-laki memerankan perempuan yang gemulai. Banci! itu sebutannya.

Tearing up a little bit, Didik merasa bahasa kasih lah yang membentuk percaya diri-nya (ia lalu menyanyikan lagu gereja bahasa kasih). Jikalau pada 1970-an lingkungannya tidak menerima, justru dia yang berkeliling dunia membawa cross-gender dancing telah berpengalaman menari dengan cross-gender dancer di Cina, Jepang, dll (saya lupa haha). Lalu kembalilah ia ke Indonesia sebagai penari kelas dunia.

TEDx Video: RON GUTMAN

Sebelum pembicara ketiga, ada TED Video oleh Ron Gutman. Jujur saya lupa isinya.

ARIF ABDILAH - TEDx Jakarta You

Pembicara ketiga, adalah TEDx Jakarta You – pada kesempatan ini TEDx Jakarta menerima orang-orang yang ingin menginspirasi di seluruh Indonesia, mengaudisi mereka dan menjadikan 3 finalis sebagai bagian pembicara hari itu. Salah satunya, Arif Abdilah yang pernah merasa memiliki rahasia dan pengalaman yang berat (paling berat sedunia pikirnya saat itu), merasa susah untuk cerita. Ia lalu membuat project satu pertanyaan harus dijawab 100 orang berbeda selama setahun. “Apa rahasiamu?” Mulai teman, saudara, dan orang yang tidak dikenal pun ditanyainya. Semua jawaban di-upload di blog, ditulis tanpa cantuman nama.

Ditemukannya banyak orang yang rahasianya sangat rumit, problemnya kompleks. Seseorang itu lega dan beban di pundaknya berkurang jauh ketika ia memiliki orang yang mau mendengarkan. Dengar saja, tidak usah merespons banyak apalagi nge-judge. Arif menyediakan dirinya untuk mendengarkan problem orang-orang yang tak ia kenal, termasuk attendee TEDx yang ingin berbagi rahasia (tanpa nama), yang dibacakan di depan. Selang dua break, pada sesi tiga Arif ke panggung lagi membacakan beberapa rahasia attendee. Ada yang berhubungan dengan suami orang, ada yang naksir volunteer TEDx *lalu sorak sorai se-ruangan*, ada yang kena kanker.

Session 2: Progress with Purpose

JOHN HARDY - Green Enterpreneur

13.15. John Hardy, pendiri Green School (yang sangat terkenal di Bali), menceritakan sekolah yang ramah lingkungan di Ubud ini. Hardy yang mengenakan sewek batik (at least yang tampak seperti itu), memperlihatkan slide gambar-gambar arsitektur Green School yang seperti rumah tradisional di buku-buku IPS masa SD, tapi yang ini tinggi dan megah dan dikelilingi pepohonan. Material utamanya bambu, beberapa fasilitas menggunakan customised tools yang memanfaatkan energi solar, murid-murid yang 80% asing dan 20% lokal (kalau tidak salah) belajar di semi open-air classroom dengan guru-guru asing dan lokal. Siswa bebas main di alam bebas.

They say, call at night means bad news. Begitu kata Hardy kala menceritakan jembatan cantik yang dibangun di atas Ayung River (jika tak salah lagi, tapi bener kok ada Ayung River di Ubud). Jembatan yang waktu dipresentasikan mengundang koor “waaaaa” dari audiens ini dihancurkan hujan hebat (saya membayangkan sehebat apa ya). Mereka masih proses membangun yang baru (yang seperti bird nest di antara dua batu tinggi).

DHIRA NARAYANA - TEDx Jakarta You

Pembicara berikutnya adalah TEDx Jakarta You kedua, Dhira Narayana. Dhira membawa benih kecil yang tak tampak dari posisi balkon saya (saya yakin attendee di bawah baik yang rabun maupun yang tidak rabun juga bakalan ga bisa lihat saking kecilnya). Dhira pamer khasiat benih itu, untuk tanaman, yang seratnya 7 kali lebih kuat dari beton dan tapi jauh lebih ringan jika dimanfaatkan untuk bangunan, yang memiliki manfaat medis mulai diabetes, leukemia, alzheimer dan dementia, bahkan AIDS (serta beberapa penyakit lain yang dibeber sampai penuh di slide). Dhira bertanya “benih apa ini”? Tapi karena dalam intoduksinya sebagai pembicara ia dideskripsikan salah satunya sebagai “adiktif”, banyak yang dapat menebak itu benih ganja (saya sih gak bisa nebak). Benar ternyata! Audiens tepuk tangan dan ketawa-ketawa sambil “oooo”...

Lalu kenapa tanaman ganja menjadi ilegal (terutama di Indonesia)? Memang dipahami di masyarakat bahwa dalam dosis atau pemakaian yang keliru, ganja bikin kecanduan dan malah merusak tubuh. Iya. Tapi lebih daripada itu, ganja di dunia sudah melalui histori panjang. Dari dilarangnya penanaman ganja dalam act tahun 1937 karena ada kapitalisme –supaya hanya beberapa pihak saja yang bisa menguasai kebun ganja yang manfaatnya banyak (kalau tidak salah pemahamannya begini) hingga sempat jadi tanaman wajib tiap petani masa perang dunia II (1942an) di Amerika, untuk serat pakaian tentara serta bahan perang lain yang saya lupa. Seperti on/off relationship, begini juga nasib ganja juga bolak-balik legal/tidak legal.

Di Indonesia sendiri, ganja menjadi ilegal hingga saat ini, dianggap tanaman setan. Padahal di Aceh, kebun ganja dapat tumbuh subur. Sayang di tanah Indonesia yang potensial untuk pertumbuhan tanaman berkhasiat, tidak banyak yang tahu bahwa ganja sebegitu besar manfaatnya. Ganja mengalami peyorasi karena erat dengan narkoba, adiktif, rusak. Maka, Dhira mendirikan badan independen Lingkar Ganja Nusantara yang ingin mensosialisasikan pada masyarakat Indonesia mengenai manfaat besar ganja untuk menghentikan konspirasi pihak-pihak yang ingin menguasai ganja (mungkin di Indonesia terutama). Agenda LGN adalah agar pemerintah mau memberikan fakta objektif tentang ganja supaya masyarakat tahu, itu dulu.

EWA WOJKOWSKA - Innovation Connector

Pembicara berikutnya adalah Ewa Wojkowska, yang telah bekerja 10 tahun di PBB. Sejujurnya saya kurang paham teknologi sehingga menangkap penjelasan Ewa sedikit tersesat begitu. Saya hanya paham Ewa ini mendirikan kopernik.info yang secara online menghubungkan inovasi teknologi yang membantu orang-orang di desa. Proyeknya bermacam-macam dengan inovasi yang memudahkan, didistribusikan ke berbagai tempat serta memberdayakan tenaga kerja setempat, ibu-ibu di desa misalnya, untuk mengoperasikan. Kopernik telah membantu hidup 47 ribu orang dengan total 31 proyek di 10 negara.

RIDWAN DJAMALUDDIN - Ocean Scientist

Ridwan Djamaluddin, yang diperkenalkan Anien sebagai ‘bukan Andi Malarangeng’, adalah ocean scientist. Bekerja di BPPT, beliau cerita banyak mengenai negara Indonesia yang juara satu sedunia terancam bencana dan juara tiga sedunia terancam gempa bumi. Jarang-jarang Indonesia juara, begitu katanya. Ridwan menjelaskan melalui peta dan menunjukkan titik-titik rawan bencana yang tersebar seluruh Indonesia (dan banyak banget). Beliau bilang, setidaknya sejak 1897, ada 50.000 bencana yang telah terjadi. Namun, sejak tsunami Aceh 2004, frekuensi gempa bumi (yang potensial tsunami maupun gempa saja) telah naik 10 kali lipat. Ingat Padang, Mentawai, Jogja, Bengkulu, dll. Data ini, sisi terangnya adalah pakar sigap membuat early-detection system. Beberapa menit sebelum gempa (atau jika disertai tsunami), BMKG pusat di Jakarta akan kirim peringatan ke Bupati atau Walikota dan pemimpin daerah akan meneruskan info ke rakyatnya. Teori idamannya, sistem ini meminimalisasi jumlah korban. Ridwan bercanda “Tapi kadang masyarakat kita itu pakai tanya benar apa tidak info yang didapat, dikira isu dsb padahal waktu terus jalan”. Kalau sudah terlanjur bencana, ya ndak bisa ngomong apa-apa. Ini mengingatkan saya ke pernyataan koplak seorang petinggi, “siapa suruh rumahnya di dekat pantai” –merujuk ke banyaknya korban meninggal di pesisir waktu tsunami.

Data penelitian dengan responden dibeber di slide, sebenarnya banyak kok yang sudah paham, misalnya jika ada gempa dan tinggal dekat pantai sebaiknya tindakan pertama adalah lari ke tempat lebih tinggi. Tapi kapan larinya itu, responsen mayoritas menjawab “jika ada gemuruh terdengar dari pantai/laut”, padahal seharusnya jika memang merasakan getaran gempa segera saja amankan diri ke tempat tinggi. Di Mentawai, gempa terjadi pukul 21.42, sehingga banyak korban karena tidak merasakan (sudah tidur). Dalam kasus lain, ada yang bilang “gempa tidak terasa” padahal 7,7 SR. Saya pun bingung gempa 7.7 SR tidak terasa itu kenapa ya? Masyarakat Indonesia itu tukang lupa, kata Ridwan menyimpulkan dari riset (e ya ampun kalau gitu saya Indonesia banget). Sebabnya, pada kejadian sampai mungkin sebulan, masyarakat panik banget. Enam bulan sampai satu tahun setelah kejadian masyarakat bakal parno, tahun berikutnya masih takut, tetapi 10 tahun sesudahnya akan lupa. Siklus pun kembali ke awal lagi, tidak waspada dan panik itu.

Ridwan pun berkonsentrasi tidak hanya sistem, tetapi juga edukasi dan sosialisasi pada masyarakat terutama yang muda dan yang daerahnya rawan, supaya sadar akan potensi bahaya tempat tinggal. Tidak meremehkan peringatan dan latihan supaya sigap, paling tidak paham dulu lah dasar penyelamatan diri. Kalau perlu simulasi di desa rawan perlu dilakukan. Bangunan mulai diperhitungkan konstruksinya, masyarakat yang dulu pernah kena gempa melengkapi dinding dengan semacam karet untuk menahan. Lucunya, Ridwan seakan mengkontra pembicara John Hardy yang mengonsepkan environmental-friendly school di Bali yang materi utama bangunannya bambu. Ramah lingkungan juga harus memperhitungkan standar keselamatan. Demikian.

DEREK SIVERS - Music Enterpreneur

Then comes Derek Sivers yang datang dengan mendekat ke tengah panggung memunggungi audiens dengan melakukan gerakan mengkaitkan tangan, maksudnya menari mengikuti Didik Nini Thowok. Di tengah tawa audiens, dia bilang: saya sebenarnya ingin bicara di sini dengan menari. Ia mengeluarkan lintingan di saku kemejanya yang menyerupai ganja lintingan Dhira: saya sebenarnya juga ingin ini (presentasi ganja), sayang sudah dipakai. Hahaha. Saya sempat bertemu Sivers di TEDx Ubud (di sana dia attendee) tapi tak sempat ngobrol. Di TEDx Jakarta saya pun menemukan dia hanya ketika saya buru-buru dijemput pulang. Kinclongnya ketutupan 750 peserta lain.

Kali ini Sivers tampil sebagai pembicara, topiknya unik, seperti yang telah saya lihat sebelumnya. Sivers yang music enterpreneur dan pendiri CD Baby sebagai online seller terbesar untuk musik independen, selalu berbicara mengenai seemingly general issue tapi sudut pandang yang tidak kebanyakan, tentunya disertai riset ya. But he talked like extremely fast (tidak ada subtitle pula saudara2), dengan pernyataan-pernyataan yang intriguing, tidak biasa, padahal menarik sekali karena bikin mikir “oiya juga ya” atau “wait, could you rewind that a little for my hammered-brain?”. Kehilangan beberapa titik untuk nyambung ke titik lain dan membentuk pola ternyata mengecewakan juga.

Ada empat non-conventional ideas yang dikemukakan, pertama wisdom of crowds: The average is greater than the greatest. Kedua, market norms destroy social norms. Diceritakan mengenai orang tua sekolah anak-anak kaya yang hobi terlambat menjemput, ketika diputuskan ortu akan didenda tiap menitnya orang tua malah teralambat lebih lama, denda naik, tambah lama lagi. Ketika ditanya, orang tua menjawab “saya terlambat menjemput karena saya bekerja dan denda segitu tidak menyusahkan saya”. Lalu ketika denda ditambah, Sivers bercanda bahwa orang tua bakal bilang “ohh great, we got the baby day care”. Ketiga, your gut is smarter than your head. Suatu waktu, dalam rutinitasnya mengamati radar yang menangkap posisi pesawat (yang tentunya membosankan karena itu-itu saja), seorang petugas tiba-tiba mendapati ada tiga titik. Ia tak dapat menjelaskan apa itu karena tampak seperti biasa, hanya ia punya perasaan kuat ada yang tak beres. Ketika tanya ke temannya, teman itu tak merasakan keganjilan. Ketika diusut, benar itu pesawat yang membawa bom or something. Lamanya diteliti, didapati bahwa tiga titik yang diamati petugas pertama muncul sepersekian detik daripada biasanya. Mengapa petugas itu sadar? Ternyata penelitian menunjukkan, apapun yang manusia jumpai atau pelajari dan bahkan manusia tidak ingat dan merasa pernah mempelajari, ada suatu bagian di otak yang secara otomatis menyimpan memori itu dan kemudian memicu bagian lain untuk siaga dan merespon. Gut feelings, perasaan yang tidak bisa dijelaskan dalam logika itu berasal dari bagian otak yang refleks bahkan sebelum sempat akal sadar kita mengelola. Keempat, quantity equals quality. Percobaan diadakan di sekolah anak-anak yang membuat pot. Dalam kurun waktu tertentu, mereka disuruh membuat pot sebanyak yang mereka bisa, tidak peduli bagaimana hasilnya. Pada hari penilaian, si guru membawa juri tamu untuk menilai pekerjaan anak-anak tanpa tahu peraturan sebelumnya. Kelompok dengan pot terbanyak, meskipun kualitas potnya tidak sebagus yang lain, menjadi pemenang. Ternyata banyaknya suatu pekerjaan memperoleh hasil atau tanggapan maksimal pula.

Kunci pembicaraan Sivers ini, don’t overthink everything. Just do it! Teruslah berjalan dengan insting. Namun demikian, saya pikir tidaklah secara mentah ini bisa diaplikasikan sebab tidak dijelaskan adakah situasi perkecualian (yak, sudah overthink). Saya suka dengan pemahaman baru ini, tetapi kadang overachieving the gut feelings ataupun quantity without considering quality fail me terribly and sometimes you don’t know which is which, mana yang harus dilogika mana yang extreme abrupt decision. How do you distinguish gut feelings and mere abrupt decision based on you-don’t-know? There’s a lot question hovering in my mind. Kembali pula saya ingat presentasi Sivers sebelumnya, kira-kira begini: what you think, what people said about things, there’s always the opposite.

TEDx Video - DEB ROY

TED Video sesi dua menampilkan Deb Roy dari TED global. Saya tidak sempat memperhatikan bagian awal, tetapi bagian tengah dan akhir presentasi saya tertarik buat segera nonton jika nanti sempat. Roy melakukan percobaan dengan anaknya yang menyebutkan kata pertama ‘water’, ia membuat pola dengan sinar-sinar laser. Not that he talked in such speed like Sivers, tapi pemahaman teknologi dan percobaan yang dilakukan harus diolah dulu oleh otak saya sebelum berlanjut ke pernyataan selanjutnya. Jadi saya skip dulu yang ini.

Session 3: Forgotten Wisdom

MUHAMMAD NOER - TEDx Jakarta You

16. 00. TEDx Jakarta You ketiga berasal dari Surabaya (yay!), Muhammad Noer. Beliau attendee TEDx Jakarta sebelumnya dan sangat terinspirasi. M. Noer diperkenalkan sebagai satu-satunya TEDx You yang tidak perlu catatan tambahan dalam presentasinya dari panitia TEDx Jakarta ketika dikurasi. M. Noer berbicara tentang membaca. Aduh, ini relevan sekali dengan sebagian masyarakat Indonesia yang tak terbiasa dan dibiasakan membaca (termasuk saya). Menurut riset, 1 dari 4 dewasa tidak baca satu buku pun dalam setahun terakhir. Itu riset yang berkembang di Amerika, apalagi negara kita. Ketika M. Noer tanya ke audiens “Sudah baca berapa buku?” Saya menjawab ke diri sendiri baru 3 novel, 1 buku finance dan 7 buku cerpen, jika graphic novel dagelan Raditya Dika dihitung saja itu pun masih 13 sampai Agustus ini. Itu pun jelas 3 novelnya tidak selesai semua, itu pun tahun ini penggalakan baca buku ke diri sendiri sudah galak.

Alasan seseorang malas baca adalah karena merasa capek. Tips darinya supaya membaca cepat: 1) jangan bersuara, 2) jangan dibaca per kata. Beliau kemudian mengadakan percobaan ke attendee. Kurang lebih semenit kami membaca cerita utuh dengan rincian sebaris kalimat 5-7 kata (kira-kira) selama sepersekian detik dari slide yang silih berganti, beberapa tidak sempat saya baca secara utuh. Setelah selesai, audiens spontan menghela nafas. Lucu juga sih. Ternyata yang kami baca itu satu slide utuh, dua paragraf panjang. Jadi, jika manusia memiliki kecepatan baca seperti itu, manusia akan dapat membaca 52 buku dalam setahun, jika bukunya sekitar 100 halaman. Membaca cepat juga diyakini akan membuka pemahaman yang lebih baik. (Mungkin ini tidak berlaku bagi saya, sebab ternyata saya tidak ingat apa yang saya baca itu sekarang). Namun, pengetahuan cara membaca cepat itu efisien untuk memaksimalkan pengetahuan di otak lumayan juga.

MULJADI PINNENG SULUNGBUDI - Underwater Photographer

Berikutnya, Muljadi Pinneng yang saya yakin pasti penggemar diving dan pria mature akan menganggapnya George Clooney versi selam. Pinneng adalah underwater photographer yang karya pocket-cam nya pernah memenangkan kompetisi dunia fotografi bawah laut. Beliau juga dengan Dive Mag Indo, ingin memasyarakatkan keindahan bawah laut, lagi-lagi potensi Indonesia yang tidak banyak diketahui (kecuali akhir-akhir ini sudah mulai terdengar gaungnya). Pinneng dulu jauh dari dunia underwater karena alasan: takut, gelap, bagaimana kalau ada hewan laut berbahaya. Akhirnya beliau mencoba juga.

Fotografi yang digunakan untuk menangkap kegiatan makhluk laut merupakan kesenangan tersendiri. Selain bertemu dengan hewan yang cantik-cantik, momen-momen yang didapat (misalnya memotret ikan mangap sedetik atau semacam parasit mikro di tentakel), itu membuka matanya terhadap keindahan yang jarang. Belajar juga bahwa beberapa hewan seperti shark (jenis yang mana ya) itu tidak seberbahaya yang orang kira. Mereka milih makan ikan kecil saja daripada manusia kolesterol kayak kita, begitu katanya. Makhluk dengan warna-warni unik, yang sedang reproduksi, makan, telah ditangkap kameranya. Beberapa aktivitas nelayan yang mengambil ikan dengan alat khusus yang tidak mematikan ikan seperti jala atau tidak semenyebalkan alat pancing juga dipotret. Beliau sudah ke Raja Ampat, Alor, dan beberapa spot yang saya lupa di Indonesia. Beberapa bahkan tak pernah saya dengar namanya.

Pengenalan dunia bawah laut juga penting untuk perkembangan anak, katanya. Pinneng mengajak anak sulungnya ikut dalam pekerjaannya sesekali. Sepulang menyelam,Pinneng melihat kemandirian anak bertambah, si sulung punya empati dan membicarakan keistimewaan alam di sekolah. Lain dengan teman-temannya, anak mall dan theme park.

ZAINI ALIF - Traditional Game Expert

Zaini Alif dengan batik dan topi adat, datang di panggung mengenalkan diri dengan “sarjana mainan”. Beliau menekuni mainan sampai disertasi. “Jika yang lain bingung meneliti pesawat atau teknologi, saya malah neliti hompimpa alaiom gambreng,” langsung kami ketawa. Beliau bangga dengan 250 jenis mainan tradisional Indonesia. Beberapa ada bandingannya di negara lain. Misalnya, congklak juga ada di Brazil dengan perumpamaan langkah pertama itu bumi dan ujungnya itu surga. Meneliti berbagai macam manfaat bermain tradisional, Zaini menyimpulkan antara lain injit-injit semut itu mengajarkan kecerdasan emosi anak, dakon itu belajar mengatur kehidupan keuangan, gobak sodor mengajarkan pertahanan diri. Permainan tradisional itu dikonklusikan bertujuan mengenal konsep diri, alam dan hubungan manusia dengan Tuhan. Hompimpa, itu mengajarkan dari Tuhan kita kembali ke Tuhan, kepasrahan kita dalam kehendak Tuhan. “Makanya kalo anak-anak main hompimpa itu pasrah saja kan mau hasilnya apa ya tetep senyum. Mainan itu sebetulnya sangat serius, mainan itu tidak main-main.” Haha. Sempat saya wondering, bagaimana ya dengan play-station dan nintendo masa kecil? Mungkin benar juga hipotesis saya selama ini bahwa yang menyebabkan saya lemot selama ini adalah karena tidak kecanduan game playstation seperti teman-teman saya.

Bagi Zaini, risetnya menunjukkan permainan tradisional mengajarkan nilai hidup, kerja keras dan toleransi. Saya ingin sekali deh bilang ke ortu yang melarang anaknya mainan dengan alasan mainan tidak bermanfaat. Zaini punya komunitas di mana setiap orang yang mengunjungi haruslah mencoba mainan di sana, entah masih kecil atau orang tua, awam atau selebritis.

JUBING KRISTIANTO - Acoustic Folk Guitarist

Jubing Kristianto memainkan gitar lagu anak-anak “Hujan” dan “Naik Delman”setelah sebelumnya melodi “Mission Impossible” mengawali acara. Saya tidak bakal banyak bicara tentang teknik gitarnya atau lagu apa yang berikutnya dimainkan Jubing karena kurang paham. Jubing belajar gitar sejak 6 SD hingga SMA padahal orang tuanya bisa gitar dan menyanyi. Ayahnya sempat menolak membiayai kursus gitar karena Jubing sudah bisa (diajarkan ortu), untuk apa mendalami. Beliau pernah terdampar 13 tahun menjadi jurnalis sebelum akhirnya kembali menekuni gitar karena merasakan passion yang kuat di situ.

Jubing mengaransemen musik anak-anak karena keinginannya simpel, ia ingin yang mendengar musiknya itu bahagia dan terhibur. Orang stres menjadi rileks, istilahnya begitu. Musik anak-anak dari satu buah gitar yang direkamnya jadi satu album dengan biaya sendiri ditolak produser, mereka pesimis musik ini susah diterima masyarakat. Kata para produser, musik itu hanya akan dibeli yang suka gitar atau yang belajar gitar saja. Beruntungnya, ada yang mendengarnya bermain dan tertarik, Jubing dibantu. Sampai sekarang ia terus memproduksi musik tradisional dan anak-anak dengan gitarnya. Sembari memainkan lagu, lampu pun redup.

PAK RADEN - Surprise Speaker

Di remang-remang panggung, dari balkon terlihat beberapa orang duduk bersila di tengah panggung menghadap sebuah white board. Surprise speaker yang dijanjikan datang tertatih dipandu volunteer. Ketika lampu sorot diarahkan, kami semua “waaaaaaaa” dan beberapa malah standing ovation karena surprise speaker The Journey to Return adalah Pak Raden yang legendaris. Benar-benar kembali ke masa lalu. Pak Raden hadir dengan khasnya, menceritakan kisah rakyat sambil menggambar. Kisahnya tentang raja yang punya segalanya tapi tidak bahagia, bosan dan kesepian karena terlalu kaya. Di akhir cerita, ada kakek tua yang tidak punya baju tapi jualan bubur mengaku bahagia. Raja tak percaya, tapi begitu si kakek bilang yang bikin dia bahagia adalah berbagi bubur dengan teman-temannya, Raja sadar bahwa ia melupakan kesempatan seperti itu. Si Raja akhirnya membagikan uang ke rakyat miskin, memberi roti pada anak lapar dan membelikan obat untuk si sakit. Pak Raden sesekali menggoda salah satu volunteer yang bertugas menyediakan penghapus papan (yang ternyata pacarnya Dhila), “kalau ada yang bisa disuruh ngapain melakukan sendiri, ya kan?” “penari ya pake kemben, itu zaman dulu ya...kalau sekarang wah wah bisaa ......” begitulah canda Pak Raden yang sudah susah berjalan dan melucu “rematiknya kumat ini saya duduk dulu ya”.

Pak Raden sukses mendapat standing ovation (dan beberapa siulan serta lambaian tangan --beberapa di Twitter juga bilang sempat menitikkan air mata) dan menutup event dengan akting lucu yang menutupi kelelahannya berdiri terlalu lama. Pemuda-pemudi yang hadir mungkin mengenal Pak Raden dan Unyil sebagai tontonan masa kecil yang mengajari mereka, lucu dan menghibur tetapi juga menyampaikan moral lewat kisah-kisah sederhana.

---

Tiga sesi disusun mirip three act structure. Sesi pertama lebih men-trigger bahasan dengan penawaran materi yang relevan dengan situasi khas masyarakat Indonesia untuk dipahami audiens, mengenai problem kekerasan yang mengatasnamakan agama sampai diskriminasi pada yang 'dianggap minoritas'. Sesi kedua lebih kepada menyadarkan audiens pada pentingnya pengembangan potensi diri (baik personal maupun potensi alam atau lingkungan). Kekayaan yang sebenarnya sudah ada di dekat tapi sering dilupakan atau kurang disadari, misalnya gut feelings, keindahan alam Indonesia, bahkan kegunaan tanaman ganja. Sesi ketiga, audiens diajak bernostalgia ke masa lalu yang seru. Relevansi dengan tema “The Journey to Return” sangat lekat di sesi terakhir. Forgotten Wisdom mengingatkan saya (dan semua yang hadir) dengan pengalaman sederhana yang dewasa ini mudah dianggap remeh dan ditertawakan karena mungkin terlalu dangkal atau ketinggalan zaman. Padahal justru cerita rakyat, kebiasaan membaca, ketekunan belajar, keceriaan bermain bersama teman-teman adalah bibit-bibit yang membawa kita ke pemahaman buat hidup dan sesama.

Mendengarkan sekaligus memahami adalah resolusi yang ditawarkan di sesi tiga, supaya ada dasar fondasi kokoh untuk menghadapi kita yang saat ini. Tidak usah jauh-jauh, ego dan kesombongan pribadi saja membawa hal-hal mengerikan. Orang-orang politik yang menter masuk penjara karena ambil uang rakyat, anak-anak muda yang lebih suka tampil keren dan terpandang daripada memiliki passion dan visi serta kepedulian dengan orang lain, orang dewasa yang berhenti belajar nilai hidup dan mendoktrin anak-anak dengan budaya primordial konvensional usang yang tak diketahui dari mana asalnya. Saya rasa attendee hari itu diingatkan sesuatu yang sebenarnya ada ketika dulu muda atau kapanpun mereka belajar.

Lewat temanya, TEDx Jakarta membantu membangun kembali yang sudah terkikis. Overall, TEDx Jakarta adalah youth movement yang membantu anak-anak muda menginternalisasikan passion dan visi hidup lalu ada kepedulian buat sesama, membantu mereka lebih jeli dan kritis terhadap isu lokal dan global, apapun bidangnya. TEDx Jakarta, a force to be reckoned with. Malam itu lagi-lagi saya dibantu untuk lebih optimis (atau barangkali narsis) dan bersyukur. Mudah-mudahan tidak berakhir di malam itu dan hari ini saja.

--

TED (Technology, Entertainment, Design) adalah organisasi nonprofit yang mengusung tagline "ideas worth spreading". TEDx adalah event yang diorganisasi secara independen mengacu pada format TEDx global. x di belakang TED menandai kelokalan konten TED di kota atau institusi yang disebut. Secara global bervisi untuk menginspirasi lewat penyebaran ide tetapi kental dengan dukungan terhadap muatan lokal daerah tersebut. TEDx Jakarta sudah tujuh kali mengadakan event TED. Tahun ini kapasitas audiensnya paling besar dari tahun-tahun sebelumnya. Untuk sekitar 700 audiens, kursi langsung ludes pada menit ke 46 sejak pendaftaran dibuka online sehingga menit berikutnya peminat harus waiting list.
See TEDx Jakarta "The Journey to Return" paused in pictures:
http://bit.ly/oofKos

Labels:


8 COMMENTs [What's Done Is Done]
Remains of the J
The Constant
Dream A Little Dream Of Me

If it was meant to be it's meant to be

I am Jess ; Dark and Twisty bright and shinny 23 this year.
Waiting for the biggest day of my life to actually happen!
I am so glad that English reduce sarcasm and insecurities no wonder I'm unconditionally devoted to it
Educated in Somewhere in Indonesia
I Like: American TV Series and being antisocial in a beautifully weird way
Direct a seriously overrated mainstream films to help you live, write a complex film or two to help you rest in peace ♥
I Dislike: devious social-cultural construction

You say you're all dark and twisty. It's not a flaw, it's a strength. It makes you who you are. ~Derek Shepherd~
Jess is delusional whimsical unicorn, verbally-challenged, a natural born shape-shifter ♥

* Facebook
| * MySpace

bold, italic, strike, underline




Name: Jess
Home: Surabaya, East Java, Indonesia
About Me: Share explanations by written words than spoken language.
See my complete profile

Wishin' and Hopin'!
Hearts and Minds

Happiness!
God forgives me for I have sinned
Sharing thoughts
Tons of DVDs and TV Series to watch
Alternative tracks/film score
Favorite tracks, lullaby I always fall for
Contemporary Dance
My N95 8GB back then
My shinny pager Bold 9900 ♥
My Silvery Cheerio iTouch 64 GB ♥
Poems and tweets
Dreamer and Doer


Love/Addiction
Reciprocity
Sort Of Like Family

These irreplaceable bastards!! I love HEART They Asked Me WHY I Believe in You

LOST
Grey's Anatomy
Flash Forward
Brothers and Sisters
Desperate Housewives
Modern Family
Fringe
Pretty Little Liars
Community
Ugly Betty
The Vampire Diaries
American Idol
So You Think You Can Dance
Damages
Heroes
Gossip Girl
Nikita
Glee
The Thing That Counts is What Inside

TV couples who wallpapered lives

Jack/Kate
Meredith/Derek
Izzie/Alex
Claire/Charlie
Mark/Olivia
Blair/Chuck
Stefan/Elena
Kitty/Robert
Kevin/Scotty
Cameron/Mitchell
Olivia/Peter


With You I'm Born Again

Very recent episodes I've observed from 1 to 5

Grey's Anatomy 7x07 - That's Me Trying ***
The Vampire Diaries 2x08 - Rose ****
Modern Family 2x07 - Chirped **
Brothers and Sisters 5x04 - Righteous Kiss ***
Desperate Housewives 7x06 - Excited and Scared
Glee 2x06 - Never Been Kissed ***
Gossip Girl 4x07 - War at the Roses ***
Nikita 2x02 - 2.0 - **
Pretty Little Liars 1x06 - There's No Place Like Homecoming ****


Song Beneath The Song

New favorites to the hammered iTunes

Dia Frampton - Hearts Out to Dry
Sarah McLachlan - Stupid (Mark Bell mix)
Mark Isham - About Today
Jason Reeves ft. Kara DioGuardi - No One Ever Taught Us to Hide
James Morrison ft. Jessie J - Up
Jason Mraz - I Won't Give Up


The Wrath Of Con

Memorable Films which commemorate poignant/hilarious/dramatic events

Moulin Rouge
Atonement
A Beautiful Mind
Gie
Never Let Me Go
Ada Apa Dengan Cinta?
Brokeback Mountain
Girl, Interrupted
American Beauty
A Better Life
We Are Marshall
Rain Man
Amelie
Black Swan
Fiksi
Serendipity


Strangers In A Strange Land
Person of Interest
Come Play Wiz Me

* JESS' Tumblr
* JESS Part Deux
* Ms. Desi
* Ms. Joanne
* Valencia
* Eva
* Cindy
* Schoen
* Ardina
* Berline
* Carissa
* Rendy
* Christina
* Silviana


Because You Left
If at First You Don't Suceed, Lie, Lie Again

November 2007
December 2007
January 2008
February 2008
March 2008
April 2008
May 2008
June 2008
July 2008
August 2008
September 2008
October 2008
May 2009
June 2009
July 2009
September 2009
November 2009
December 2009
January 2010
February 2010
March 2010
April 2010
May 2010
June 2010
July 2010
August 2010
September 2010
October 2010
November 2010
December 2010
January 2011
February 2011
March 2011
April 2011
May 2011
July 2011
August 2011
September 2011
October 2011
December 2011
January 2012
February 2012


Where the Wild Things Are

Kejutan/Rutinitas
For Jess, Forever Ago
You Take My Troubles Away
Fighter
Spa Shindig: Confession of a Spa Level One-er
That's What You Get For Waking Up in Teenage Dream...
Tiga Hari (Bukan) untuk Selamanya
Sejauh Apa Kenal Kartini?
I Tweet, I Write, I Spam, I Smack, I Talk, I Tell,...
Bali, 4 April 2011


Please Do Talk About Me When I'm Gone
Thank You!

Designer: Yours Truly♥
Icons: I II III IV V
Others: 1 2
Hosts: x x x

*Please DO NOT remove the credits!
Thanks a lot! :D